![]() Pagi yang cerah, inilah hari yang di nantikan oleh Karmila
setelah menyelesaikan studinya di negeri Paman Sam.
Kerinduan akan kampung halaman sudah tak bisa
terkatakan. Pesawat tinggal landas menuju negeri tercinta.
Ia larut dalam lamunan merenungkan kembali kisah-kisah
yang dia alami dalam meraih keberhasilannya. Dengan
berbekalkan Iman dan kepintarannya, dia bisa berhasil di
salah satu universitas yang paling terkenal di USA. Hanya
dengan beasiswa yang dia dapatkan dari perguruan tinggi di
mana dia belajar, mimpinya yang menjadi kenyataan dia
bisa pulang dengan menggenggam gelar sarjana, suatu
kebanggan baginya. Dan Karmilapun sangat bersyukur
dengan apa yang dia raih saat ini, padahal apabila melihat
keadaan keluarganya yang hidup sangat sederhana, tentu
tak mampu untuk membiayai pendidikannya. Namun
dengan Iman yang teguh Karmila berhasil. Sejak dari SD
sampai dengan SMA dia selalu menjadi juara. Dia anak
tertua dari 4 bersaudara. Ayahnya adalah seorang
pensiunan guru SLTP dan Ibunya adalah tukang jahit.
Ketiga adiknya Anna 13 tahun, Riko 11 tahun dan Zefanya
9 tahun. Mereka sekeluarga memang aktif dalam kegiatan
Gereja. Mereka tidak pernah ketinggalan dalam kegiatan
kerohanian. Usianya
termasuk paling muda saat dia
menginjak bangku perguruan tinggi. Dia sempat putus asa
pada saat lulus SMA. Dia sadar bahwa penghasilan orang
tuanya tak dapat mencukupi biaya sekolahnya. Dia
mengalah untuk ketiga adiknya. Apalagi penyakit Ayahnya
yang sering
kambuh dan membutuhkan biaya yang cukup
besar. Karmila membantu Ibunya bekerja di sebuah toko
sebagai kasir. Dari gajinya dia bisa menyisipkan uang
untuk ditabung dan sebagian juga untuk diberikan kepada
Ibunya. Zefanya, adiknya yang paling bungsu selalu
membantu Ibunya di rumah,
sedangkan Anna dan Riko
sangat kreatif dalam
membuat kerajinan tangan yang bisa
dijual. Meskipun sibuk tidak membuat mereka lupa akan
persekutuan dengan Tuhan baik dalam keluarga maupun di
Gereja. Masih jelas dalam ingatan Karmila, tepatnya hari
Kamis tanggal 7 Mei 2001 ketika dia mengutarakan
keinginannya
untuk melanjutkan sekolahnya di perguruan
tinggi kepada orangtuanya.
Ayah, Ibu aku ingin melanjutkan sekolah di universitas.
Kata Karmila dengan wajah yang gembira. Dia tidak
menyangka akan mendapat jawaban yang di luar
perkiraannya.
Lala, kau tahu sendirikan biaya untuk masuk universitas
itu sangat mahal. Ayah dan Ibu tak punya uang untuk itu.
kata Ibunya. Kamila tercengang mendengar kata-kata
Ibunya.
Kau tahukan gaji pensiunan Ayah hanya cukup untuk
biaya hidup sehari-hari dan juga untuk biaya obat Ayahmu.
lanjut Ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku punya tabungan, Bu! kata Karmila meyakinkan.
Apa itu cukup? Bagaimana dengan biaya selanjutnya?
sambung Ayahnya yang dari tadi hanya diam.
Sambil menunduk Karmila berkata, memang tabungan
Karmila hanya cukup untuk biaya pendaftaran dan biaya
permulaan saja. Tapi Lala ingin sekolah Ayah, Ibu
.!
dengan wajah mulai di basahi air bening dari pelupuk
matanya.
Lala, Ayah dan Ibu
! belum selesai Ibunya bicara
Karmila sudah menghilang dari ruang keluarga. Anna yang
saat itu sedang memijit Ayahnya langsung merangkul
Ibunya yang sudah mulai hanyut dalam isak tangisnya.
Kedua adiknya tak dapat berbuat apa-apa. Suasana itu
memang menegangkan. Semalam suntuk Karmila menangis
sampai dia ketiduran. Dia lupa bahwa dia memiliki Yesus
yang dapat mengabulkan apa yang menjadi impiannya itu.
Karena masih merasa kecewa, Karmila tidak ikut ibadah
subuh keluarga. Ketukan pintu tak dipedulikannya.
Akhirnya ibadah subuh keluarga dimulai tanpa Lala.
Pagi itu adalah giliran Ibunya untuk membawakan
doa. Dari kamar dia mendengar nyanyian yang diiringi gitar
yang dimainkan oleh Riko. Matanya tak dapat dipejamkan
apalagi dia mendengar Firman Tuhan yang
terambil dari
Mazmur 8 yang disampaikan oleh Ayahnya dan mendengar
namanya dalam doa mereka. Dia
bangun dan duduk di
samping tempat tidur, serta
berlutut dan berdoa memohon
pengampunan. Dia juga berdoa untuk orang-orang yang
dikasihinya. Dia bangun dan berjalan menuju ruang makan
di mana seisi
keluarganya sedang sarapan bersama. Dia
langsung memeluk Ayah dan Ibunya.
Ayah, Ibu
maafkan Lala! kata Lala penuh penyesalan.
Tidak apa-apa anakku! jawab Ayah dan Ibunya
membalas rangkulan anak mereka.
Sejak saat itu dia
menjalani hari-harinya dengan harapan
apa yang diimpikannya akan menjadi kenyataan. Tanpa
terasa waktu berlalu begitu cepat. Selama itu dia
menabung hingga pada akhirnya dia bisa masuk
universitas yang dia dambakan. Setelah habis 2 semester
dia
mendaftarkan diri dalam program beasiswa dengan
tujuan sekolah di luar negeri. Dia tak menyangka bahwa
propospal yang dia ajukan diterima oleh pihak sekolah di
mana dia kuliah. Dari hampir semua siswa di satu fakultas
itu mendaftarkan diri tetapi hanya tiga yang terpilih
termasuk Karmila. Setelah mendengar kabar itu dia
melonjak kegirangan.
Dengan airmata kebahagiaan dia
mengucap syukur karena doanya terkabul. Sampai di
rumah dia memberitahukan hal itu kepada Ayah dan
Ibunya juga adik-adiknya. Mereka turut bersukacita.
Selamat nak, selamat ya! kata Ayah dan Ibunya.
Ruang Konsultasi
Oleh: Pdt. Johan Kusmanto
Untuk konsultasi langsung silahkan
Hubungi Gereja Misi Indonesia Hong Kong
2960 1745 atau 2802 6817
Bapak Pendeta yang baik
.
Saya seorang Ibu yang memiliki seorang anak laki-laki yang
berusia 7 tahun. Meskipun usianya baru 7 tahun tapi dia sudah
berani mengambil uang orang (uang orang-orang yang ada di
rumah). Kelakuannya ini membuat hati kami sebagai orang tua
merasa sangat prihatin. Kami sudah beberapa kali menasihati,
tetapi dia tetap saja melakukan hal itu. Pertanyaan saya,
bagaimana cara yang terbaik untuk mengatasi masalah ini dan
membina anak kami?
NN
Ibu NN yang dikasihi Tuhan Yesus,
Dalam proses pertumbuhan, anak berusia 7 tahun adalah
anak yang sedang mencari identitas diri. Dalam masa ini, anak
membutuhkan banyak pendampingan, khususnya dari orang
tua. Dalam masa ini juga, mulai muncul pertanyaan-
pertanyaan dalam dirinya menyangkut banyak hal. Sehingga
pendampingan yang dibutuhkan bukan sekedar mengatakan
ya dan tidak atau boleh dan tidak
boleh
tetapi juga
memberikan alasan-alasan yang logis yang sesuai dengan
bahasa anak. Karena masa kini anak semakin kritis, sehingga
tidak cukup orang tua hanya memberikan larangan, tetapi
harus diikuti dengan penjelasan yang dimengerti oleh anak.
Menyangkut masalah yang terjadi, perlu adanya pendekatan
dengan anak untuk mengetahui mengapa anak itu mengambil
uang. Apakah itu berkaitan dengan kebutuhan yang tidak
didapatkan dari orang tua ataukah itu sebuah tindakan iseng
untuk
sekedar mendapat perhatian atau bahkan pada
kemungkinan terakhir dimana ada orang yang memiliki
penyakit yang mendorong seseorang untuk mencuri.
Namun jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan
terakhir sebelum mengerti jelas masalahnya. Memarahi anak
terus menerus bukan satu-satunya jalan keluar untuk
menyelesaikan masalah, apalagi jika kemarahan itu
menimbulkan sakit hati terhadap anak (Efesus 6:4). Namun
yang dituntut dari orang tua adalah ketegasan untuk
membawa anak-anaknya keluar dari kebiasaan yang buruk
sehingga peristiwa keluarga Eli tentang kenakalan anak-
anaknya tidak terulang pada anak-anak kita (I Samuel 3:11-
14).
Memang zaman sekarang ini tidak mudah untuk mendidik
anak. Mendidik anak adalah sebuah proses, maka dibutuhkan
kesabaran orang tua dengan satu keyakinan bahwa Allah akan
menolong orang tua dan anak. Sebagai orang tua, kita harus
tetap melihat itu sebagai tanggung jawab dari berkat yang
Tuhan berikan kepada kita. Sehingga dengan kesadaran itu
akan mendorong kita untuk terus mendidik anak kita di dalam
Tuhan sebagaimana Firman Tuhan dalam Ulangan 6:4-9.
Dengan menanamkan Firman ke dalam hidup mereka, maka
Roh Kudus akan menolong mereka untuk dapat mengerti dan
membedakan mana yang baik dan yang berguna bagi mereka.
Keluarga Nuh dalam Kejadian 6 adalah satu contoh
bagaimana Nuh mendidik ketiga anaknya yang bertumbuh di
tengah dunia yang jahat. Namun akhirnya anak-anak dan
menantu Nuh dapat mengikuti jejak orang tua mereka untuk
lebih mendengar suara Tuhan dengan masuk ke dalam
bahtera. Pasti sejak kecil Nuh mengajarkan anak-anaknya
untuk hidup takut akan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus terus
memampukan Ibu dan suami dalam mendidik anak di dalam
Tuhan.
CERPEN
Pengharapan Di Dalam Iman
Oleh : Methe
14
3
Bersambung ke hal. 15
DOAKAN DAN HADIRILAH !
IBADAH NATAL & PEMBUKAAN KEBAKTIAN GEREJA MISI INDONESIA HONG KONG DI MA ON SHAN
Hari / Tanggal
: Minggu, 30 Desember 2007
Jam
: 15.00 17.00
Tempat
: Ma On Shan Baptist Church
Shop 107-108 Upper Ground Floor, Fok On Garden
Ma On Shan, NT, Hong Kong
Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk hadir bersama dalam ibadah ini.
|