![]() Pengantar
Kebaikan Tuhan merupakan pokok bahasan yang tidak
terduga dalamnya. Mengapa? Karena kebaikan Tuhan
menyangkut pribadi Tuhan sang Pencipta yang serba maha
Sebaliknya manusia (kita) yang hendak membahas kebaikan-Nya
serba terbatas karena sebagai ciptaan dan juga terbatas karena
keberdosaan.
Dalam Mazmur 139, pemazmur mengungkapkan
pengalaman pribadinya bersama Tuhan. Pemazmur menyadari
perhatian, pengenalan, penyertaan atau kehadiran Tuhan yang
luar biasa bagi dirinya. Menghayati kebaikan Tuhan yang serba
maha dan menyadari diri serba terbatas, pemazmur mengaku:
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, tertalu tinggi, tidak
sanggup aku mencapainya (ayat 5). Pengakuan ini sangat
manusiawi (jujur, rendah hati), tetapi juga sangat teologis (Tuhan
itu sangat ajaib untuk dipahami) oleh ciptaan yang ternodai dosa
dan terkurung dalam bilik keterbatasan.
Secara teologis, pernyataan pemazmur merupakan
isyarat bahwa sesungguhnya Tuhan tidak boleh dijadikan subyek
kajian rasional
belaka. Sebaliknya segala kebaikan Tuhan
bagaikan undangan khusus bagi kita untuk menjadikan Tuhan
pusat ibadah (pujian dan penyembahan). Kalau kita belajar
mengenal Tuhan, beribadah kepada-Nya dan berteologi itu
hanya kasih karunia-Nya semata-mata. Ibadah dan teologi ada
karena Allah rela menyatakan diri-Nya, melalui penyataan umum
(Mzm. 19) dan penyataan khusus (Yoh. 1:18; Kol. 1:15, 19).
Beranjak dari pemahaman di atas dan dalam segala
keterbatasan, akan dipapar-kan apa adanya matarantai historis
Kebaikan Tuhan melalui Paket PE AN. Isi paket tersebut
meliputi PEnciptAN, PEnyesatAN, PEngusutAN, PEngusirAN,
PEngutusAN, PEnyelamatAN dan PEmuliaAN.
PEnciptAN
Alkitab dimulai dengan pernyataan teologis tentang
kebaikan Tuhan yakni Pada mulanya Allah menciptakan langit
dan bumi (Kejadian 1:1). Pernyataan ini berisi beberapa pokok
pikiran dasariah atau teologis.
(1) Allah berada di luar batas waktu, hak,ekat-Nya kekal,
ada dengan sendirinya (Mazmur 90:2). Karena itu Ia adalah
pangkal kekekalan, sumber hidup yang kekal (Kej. 21:33; Yes. 9:5;
26:4; 40:8; Yer. 10:10; 1Tim. 1:17). Barangsiapa yang percaya
kepada-Nya mendapat hidup yang kekal (Tit. 1:2; 3:7; bd. Yoh.
3:16).
(2) Allah berdaulat atas segala ciptaan-Nya. Hidup setiap
orang ada dalam rencana kedaulatan-Nya. Masa depan kita
bukan di tangan majikan, tetapi di tangan Tuhan (Yes. 41:10, 13;
Yoh. 10:26-30). Anda di tangan Tuhan, bukan dibawah kekuasaan
orang,
uang dan orang kaya. Tuhan berdaulat memperpanjang
atau memperpendek hidup tiap orang. Perjalanan dunia ini, di
tangan Tuhan, bukan di tangan teroris. Tuhan yang
mengendalikan dunia ini, bukan teroris dan juga bukan negara
adidaya yang banyak tipudayanya.
(3) Allah itu berpribadi, sebab hanya pribadilah yang
mencipta segala sesuatu (Kej. 1:26; bd. Yoh. 14:23). Manusia
adalah pribadi pembawa gambar Allah (Kej. 1:26). Manusia
diciptakan untuk mengatur, mengelola semua ciptaan (Kej. 1:26-
28; bd. Mzm. 8: 4-9. Manusia diciptakan untuk bekerja, mengatur
dan memimpin. Jika tiap orang menyadari tujuan Allah
menciptakannya, maka ia akan bekerja secara bertanggung
jawab, kreatif mengembangkan pekerjaan dan bekerja dengan
etis. Menyadari etika kerja sebagai bagian
dari kebaikan
Tuhan, dapat melepaskan setiap orang dari berbagai
bentuk korupsi.
Menyadari pekerjaan sebagai wujud, berkat
kebaikan Tuhan, maka bekerja dijadikan sarana
pengabdian (ibadah) kepada Tuhan. Dan pekerjaan
menjadi mimbar kesaksian Injil. Mental kerja yang jujur,
tidak korup, bertanggung jawab hanya dapat tercipta
apabila setiap orang Kristen menyadari bahwa bekerja
adalah pengabdian diri kepada Tuhan dan pekerjaan
adalah mimbar pemberitaan misi Allah. Andaikan gereja
memperlengkapi warganya dengan pemahaman ini, maka
tidak akan ada orang Kristen, majelis gereja, penyumbang
dana untuk gereja yang diinapkan dengan paksa di
Lembaga Pemasyarakatan karena korupsi uang negara.
Pemenjaraan oknum tertentu (Kristen) karena korupsi,
merupakan Kabar Buruk tentang Kabar Baik (merusak
kesaksian Kristen). Korupsi yang dilakukan oknum Kristen
dalam pekerjaan adalah penodaan terhadap kebaikan
Tuhan dan pengkhianatan kepada Tuhan yang
memberikan pekerjaan sebagai wujud kebaikan-Nya.
(4) Allah adalah pencipta berpribadi yang
bermoral (Kej. 1:25; 31). Ia adalah pengada dan sumber
segala yang baik. Segala sesuatu yang diciptakan-Nya baik
dan sungguh amat baik, atau sempurna (Kej. 1:25, 31).
Artinya kejahatan tidak termasuk ciptaan dan Allah bukan
sumber kejahatan. Manusia sebagai ciptaan yang
sempurna dan pembawa gambar Allah, merupakan sebuah
proklamasi teologis bahwa teori evolusi harus ditolak,
tidak perlu dipercayai apalagi diajarkan, karena
bertentangan dengan Alkitab Firman Allah yang
berotoritas. Guru yang mengaku diri Kristen dalam arti
benar-benar dilahirkan kembali, bertobat, tidak akan
mengajarkan teori evolusi kepada anak didiknya. Hanya
guru Kristen yang berpikiran duniawi, tidak percaya Alkitab
Firman Allah yang akan rasa aman mengajarkan teori
evolusi kepada peserta didik. Tetapi perlu diingat bahwa
oknum Kristen yang mengajarkan teori evolusi naturalistik
teistik berarti menyebar virus kebohongan dan
penghianatan terhadap Allah sang Pencipta yang telah
menciptakan segala sesuatu dengan sempurna.
PEnyesatAN
Adam ciptaan yang dijadikan mitra kerja Allah,
mengalami hidup yang ber-kecukupan. Betapa tidak,
pangan dicukupkan (Kej. 1:29-30), lapangan kerja
disiapkan (Kej. 2:15-17), teman hidup yang sepadan
didatangkan (Kej. 2:18-25). Kekuasaan memerintah,
mengatur diberikan (Kej. 1:28; 2:20; bd. Mzm. 8:4-9).
Pasangan pertama di dunia ini, diberi kepercayaan untuk
mengatur ciptaan Allah dan mengelola taman Eden. Raja
dan ratu segala ciptaan ini akrab dengan Tuhan sang
Pencipta di taman Eden yang asri sambil menikmati masa
keemasan yang asli. Keduanya telanjang tetapi tidak
merasa malu (Kej. 2:25) karena keadaan itu bukan
pornografi atau porno-aksi. Tidak ada gangguan relasi
sosial atau rasa curiga diantara keduanya karena
ketelanjangan. Justru ketelanjangan Adam-Hawa dalam
dunia yang asli merupakan bagian dari hidup bahagia.
Semuanya ini adalah berkat kebaikan Tuhan.
Dari sudut perenungan teologis kebahagiaan, ketenteraman,
keharmonisan Adam-Hawa (manusia) bukan karena kecukupan
sandang, pangan dan papan, melainkan relasi yang harmonis
dengan Tuhan. Pada dasarnya kunci kebahagiaan terletak pada
harmoni-sasi relasi teologis (persekutuan yang benar antara
manusia dengan Tuhan). Justru permasalahan manusia bermula
dari keterlibatan ibu Hawa dalam dialog dengan si naga (baca:
Iblis) tentang manfaat buah bagi kesehatan khusus awet
muda, mata sehat, otak cerdas (Kej. 3:1-5). Diskusi tentang
manfaat buah dan janji yang diiklankan Iblis sangat
menjanjikan. Sebab apabila ibu Hawa mengkonsumsi buah
pohon yang ada di tengah taman, maka ia akan mengalami (1)
Tidak akan mati (umur panjang, awet muda). (2) Mata akan
terbuka (penglihatan bagus). (3) Akan menjadi sama seperti
Allah (posisi lebih terjamin/sejajar dengan Tuhan). (4) Tahu
tentang yang baik dan jahat (cerdas, berpengetahuan luas).
Dialog dengan si naga telah usai. Sekarang terserah Hawa,
percaya kepada janji si naga (Iblis) atau taat pada ketetapan
Tuhan? Tampaknya janji/jaminan tentang manfaat buah
menawan seluruh perhatiannya yakni matanya, perasaan/
keinginannya, hatinya. (Kej. 3:6a). Sebaliknya peraturan yang
ditetapkan Tuhan tidak menjadi bahan pertimbangan. Hawa
makin jauh melangkah tanpa mengindahkan perintah Tuhan
baginya bersama suami (Kej. 2:16). Ia menimbang manfaat buah,
memperhatikan daya tariknya, mengingat jaminan mutu,
memutuskan, menetapkan: mengambil dan meng-konsumsi
buah pohon yang dipromosikan si naga dan memberikannya
pula kepada suami (Kej. 3:6b).
Keputusan Hawa menempuh sebuah proses pertimbangan
yang matang dan penuh kesadaran. Ia ingin segera mengalami
realisasi jaminan yang dilontarkan si naga. Tak disangka.
keputusan mengkonsumsi buah larangan, membuahkan tragedi
tiada akhir bagi Hawa-Adam dan keturunannya. Sesaat setelah
mengkonsumsi buah terlarang, benar, mata mereka berdua
terbuka. Tak pelak lagi keduanya pun tahu bahwa mereka
telanjang (Kej. 3:a). Suasana berubah seketika. Rasa malu pun
bersemi tak terbendung. Harmonisasi relasi sosial antar
keduanya tidak terselamatkan. Masing-masing sangat terganggu
dengan kondisi ketelanjangan. Usaha swadaya dilakukan dengan
menyemat daun ara dan membuat cawat (Kej. 3:7b). Ketakutan
terhadap Tuhan menguasai seluruh eksisten pasangan di taman
Eden itu. Pilihan yang ditempuh untuk mengatasi ketakutan
terhadap kehadiran Tuhan ialah bersembunyi (Kej. 3:8). Inti dari
tragedi buah terlarang ialah manusia mengalami kerusakan
total walau bukan rusak permanen. Gambar dan rupa Allah
yang dimilikinya ternodai total, namun tidak sirna, hancur
berantakan, tetapi tidak hilang. Buktinya ialah manusia masih
memiliki kerinduan akan Allah yang sejati dan berusaha
mencarinya dengan berbagai cara, walau keliru.
Sebuah pertanyaan evaluatif teologis perlu dikemukakan
sehubungan dengan penyesatan melalui manfaat buah yang
mendatangkan tragedi buah terlarang. Mengapa Hawa nekad
melanggar hukum Allah (berdosa/memberontak) terhadap Allah?
Apabila jawaban Hawa kepada si naga (Kej. 3:1-3)
dicermati, dibandingkan dengan ketetapan Tuhan (Kej. 2:16)
menunjukan bahwa: (a)
Hawa tidak ber-apologia (baca:
membela kebenaran, berargumentasi) secara alkitabiah. Hawa
tidak siap berapologi dengan si naga yang mengawali dialognya
dengan pertanyaan uji pengetahuan Alkitab (Kej. 3:1). Ia tidak
siap memberikan pertanggungan jawab (memberi penjelasan)
tentang ketetapan Tuhan bahwa semua pohon dalam taman
Eden boleh dimakan, kecuali buah pohon pengetahun tentang
yang baik dan jahat (bd. 1Petrus 3:15-16). Ia menjelaskan
posisi pohon (di tengah taman), bukan jenis pohon. (b)
Hawa
tidak memberi perhatian dalam hal mengingat/menyimpan
Firman Allah/perintah Tuhan dalam hatinya (bd. Mzm. 119:11).
Jawabannya kepada si naga tidak persis sama dengan
perintah Tuhan (Kej. 2:16). (c) Hawa tidak teliti
memperhatikan/membaca ketetapan/Firman Tuhan. Sebab ia
menghilangkan kata-kata penting dalam Kej. 2:16 dan
menambahkan yang tidak dikatakan Tuhan (Kej. 3:3b). (d)
Hawa tidak berpegang pada doktrin/teologi alkitabiah. Sebab
ia mengatakan kalau makan buah pohon di tengah taman
nanti mati. Padahal yang Tuhan katakan ialah pada
hari/saat makan buah terlarang pasti mati bukan nati. (e)
Hawa tidak berpikir alkitabiah/teologis berdasarkan Firman
Tuhan, melainkan menurut dunia, menuruti keinginan mata,
perasaan dan hatinya (Kej. 3:6).
Pada akhirnya, Hawa jatuh, hancur berantakan bukan
karena ia lemah, melainkan karena ia kuat. Kuat dalam hal
apa? Hawa kuat melawan
ketetapan Allah dan berani
melanggarnya. Hawa mati sesuai ketetapan Tuhan dalam arti
putus hubungan dengan Tuhan sumber kehidupan. Lebih
tegas, Hawa kuat memberontak terhadap Tuhan dengan sadar
dan berani.
Hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai ialah
bahwa sebagian orang kristen dewasa ini (1) Kurang berminat
dalam membaca (baca: mempelajari) Firman Tuhan dengan
teliti. Sangat lemah dalam mengingat/menyimpan Firman
Tuhan dalam hati. (2)
Mendengar Firman Tuhan (khotbah)
tidak mau yang sifatnya doktrinal, ingin ringan, praktis
(humoris). (3)
Cenderung anti doktrin/teologi. Sikap ini
berbahaya, sebab doktrin merupakan pagar dan pegangan.
Menolak doktrin, bisa gampang disesatkan atau menjadi
penyesat tanpa menyadarinya.
PEngusutAN
Meskipun Adam-Hawa memberontak, menolak
Tuhan. Namun tetap berstatus pembawa gambar Allah, milik
kepunyaan-Nya. Tuhan bertindak mendekati keduanya. Tuhan
tahu bahwa mereka sedang tidak berada di posisi yang benar.
Tetapi ia tidak mencela apalagi menghardik. Sebuah
pertanyaan korektif teologis ditujukan kepada Adam:
Dimanakah engkau? (Kej. 3:9). Ada 4 pengakuan yang
dikemukakannya: ...aku mendengar..., aku takut.., aku
telanjang..., aku bersembunyi... (Kej. 3:10). Adam tidak
menjelaskan faktor penyebab tetapi kondisinya. Tuhan terus
mengusut kasus penyesatan itu. Dua pertanyaan diajukan-Nya:
Siapakah yang memberi tahu kepadamu bahwa engkau
Kebaikan Tuhan
Oleh: Pdt. Nimrod Faot., D.Th.
8
9
|